JAKARTA, economicnoise.com - Kain tradisional adalah warisan budaya yang sarat makna. Ia bukan sekadar lembaran kain, melainkan cermin identitas suatu masyarakat, media ekspresi, dan sarana pewarisan budaya lintas generasi.
Sayangnya, keberadaan kain tenun tradisional kini semakin tergerus oleh perkembangan zaman. Banyak kerajinan tangan khas daerah yang mulai ditinggalkan. Namun, di pedalaman Sumatra Barat, tepatnya di Jorong Pamasihan, Nagari Tanjung Bonai, Kecamatan Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar, masih ada sekelompok perempuan yang teguh menjaga denyut tradisi.
Mereka dengan penuh kebanggaan melanjutkan tradisi menenun songket, menggunakan teknik turun-temurun yang diwariskan dari leluhur. Dari tangan-tangan terampil inilah lahir kain tenun berkualitas tinggi yang bahkan telah dikenal hingga ke mancanegara.
Meski kini kain pabrikan berlimpah, para penenun Lintau memilih kembali pada praktik lama yang lebih ramah lingkungan, yakni pewarnaan alami. Berbagai tumbuhan, biji, hingga kayu yang tumbuh subur di sekitar hutan mereka dijadikan sumber warna alami. Selain menghasilkan warna yang kuat dan unik, pewarna ini juga mengandung antioksidan serta tidak merusak alam.
Beberapa bahan yang kerap digunakan di antaranya adalah tanaman indigofera, kayu mahoni, dan daun ketaping, yang semuanya mudah diperoleh di sekitar desa. Upaya pelestarian ini mulai terorganisir sejak tahun 2013 berkat inisiatif Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LP2M). Program serupa juga dikembangkan di Nagari Lubuak Jantan dan Kota Sawahlunto.
Direktur Eksekutif LP2M, Ramadhaniati, menjelaskan bahwa dampak positif dari program ini cukup signifikan. Para perempuan penenun tidak hanya meningkat keterampilannya, tetapi juga mengadopsi praktik produksi berkelanjutan. Bahkan, penjualan kain tenun ramah lingkungan meningkat hingga 50%.
Meski begitu, tantangan tetap ada. Untuk menjadikan tenun warna alami lebih berdaya saing, dibutuhkan inovasi dalam desain, strategi pemasaran, serta upaya menghubungkan tradisi dengan tren masa kini. Hal ini penting agar warisan budaya Minangkabau tetap relevan dan bernilai ekonomi.
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah promosi melalui media. Pada 2019, LP2M meluncurkan brand Limpapeh Handmade yang bekerja sama dengan Air Asia Foundation Malaysia untuk memproduksi film dokumenter garapan Randy F. Darius. Selama tiga hari, sang pembuat film merekam proses pembuatan songket, dari pewarnaan alami hingga tenunan akhir, dengan partisipasi penuh masyarakat setempat.
Randy menyebutkan bahwa film ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya menjaga tradisi tenun ramah lingkungan agar tidak punah. Dokumenter tersebut bahkan berhasil masuk nominasi “The Best Green Fashion Film” di Festival Film Internasional Milano, serta diapresiasi di Chicago pada 2021 dan 2022.
Melalui pencapaian ini, LP2M berharap kain tenun pewarna alami dari Lintau dan Ranah Minang bisa lebih dikenal di tingkat global. Bukan hanya sekadar warisan budaya, tetapi juga sebagai jalan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat desa dan memperkuat peran perempuan penenun.